Selasa, 30 November 2010

mutiara hikmah sang teladan

"Pernah dengar nama "Luqmanul Hakim"?. Jika anda seorang muslim dan sering membaca Al Quran, saya yakin pasti mengetahui atau paling tidak pernah mendengar nama ini. Luqmanul Hakim adalah seorang 'alim yang karena keluasan ilmu dan kearifan yang dimilikinya, dimuliakan oleh Allah SWT dengan mengabadikan namanya dalam Al Quran (Surah Luqman). Tidak cukup sampai disitu, kisah hidup sang teladan yang penuh dengan mutiara hikmah, kemudian tertulis dengan tinta emas dalam lembaran-lembaran sejarah Islam. Mungkin hal ini disebabkan karena perjalanan kehidupannya syarat akan nilai-nilai hidup. Tidak sedikit ulama-ulama Islam dunia, baik itu yang sejaman dengan beliau maupun yang hidup sesudahnya, mengatakan bahwa Luqmannul Hakim memiliki derajat setingkat di bawah Nabi.

Cahaya Islam yang sangat kuat terpatri dalam hatinya, telah membawa beliau menuju maqom yang sulit ditandingi atau dicapai oleh manusia yang hidup di abad ini, menjadi pelajaran yang patut dijadikan contoh teladan bagi siapa saja dalam menjalani kehidupannya. Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan kepada pembaca sekalian, satu kisah yang merupakan bagian dari sejarah kehidupan Luqmanul Hakim yang insya Allah menarik untuk direnungkan. Mengapa?, karena menurut saya kisah ini sangat indah, sedikit lucu, tetapi mengandung pelajaran dan hikmah yang sangat besar. Saya sangat yakin setelah membacanya, akan banyak mempengaruhi pola fikir dan cara bertindak kita pada masa-masa yang akan datang, terutama dalam hal berfikir, bertindak dan mendidik. Kisah ini sekaligus mengajarkan pengetahuan tentang hakekat hidup, terutama pemahaman mengenai esensi dan tujuan hidup itu sendiri.

Tetapi sebelumnya, saya ingin bertanya kepada anda semua tentang tiga hal. Pertanyaan ini cukup anda jawab dalam hati, dan pada akhir kisah nanti, saya minta anda merenungkan dan dan menganalisa dengan baik, lalu hubungkan hasil analisa atau kesimpulan anda terhadap cerita ini dengan ketiga pertanyaan yang saya ajukan. Pertanyaan pertama, menurut anda, bagaimana konsep ideal dalam mendidik/mengajar?. Kedua, siapa yang anda harapkan memberi nilai atas suatu perkerjaan atau tindakan yang anda lakukan?, dan ketiga, apa sebenarnya tujuan hidup anda?. Sekarang, cobalah memberi jawaban terhadap ketiga pertanyaan saya barusan, dan nanti, cocokkan dengan kesimpulan analisa anda terhadap cerita ini.

Kisah ini sebenarnya sangat sederhana dan ini adalah bagian dari cara Luqmanul Hakim mengajarkan agama dan hakekat hidup pada anak-anaknya. Silahkan simak dengan baik kisah berikut (maaf, saya tidak menukilkan kisah ini sebagaimana kutipan aslinya, tetapi lebih kepada intisarinya) :

Suatu hari, seperti biasa Luqmanul Hakim sedang mengajar anaknya. Sementara pelajaran sedang berlangsung, tiba-tiba beliau menghentikan pelajaran dan meminta sang anak pergi mengambil kuda tunggangan. Beliau berpesan agar kuda yang diambil tidak terlalu besar dan hanya cukup untuk ditunggangi satu orang. Sang anak tanpa banyak tanya, kemudian pamit dan menuju ke belakang rumah mereka mengambil kuda sebagaimana pesan ayahnya. Ditambatkannya kuda tersebut pada salah satu pohon di depan rumah lalu ia kemudian memberitahu ayahnya bahwa kuda yang dimaksud sudah ditambatkan di depan rumah. Luqmanul Hakim berdiri dan mengajak anaknya menuju kuda tersebut, "Kita akan menuju suatu tempat" katanya.

Setelah berada di dekat kuda tersebut, Luqmanul Hakim lalu meminta anaknya naik di atas pelana kuda. Sang anak tentu terheran-heran, kemudian berkata pada ayahnya, : "Bukankah ayah yang sebaiknya naik kuda ini biar saya yang menuntun, apalagi ayahkan sudah tua". "Tidak mengapa, naiklah!", begitu kata Luqman. Sang anak pun dengan berat hati naik ke atas pelana kuda. Mereka pun berjalan meninggalkan rumah, Luqmanul Hakim berjalan di depan sambil memegang tali pengikat kuda.

Perjalanan kedua bapak dan anak ini melewati perkampungan yang cukup padat penduduk. Tentu saja banyak warga melihat Luqmanul Hakim yang mereka kenal dengan baik sebagai seorang 'alim melintas dengan anaknya. Mereka heran lalu kemudian berkata : "Wah zholim sekali anak itu, bisa-bisanya dia biarkan ayahnya yang sudah tua berjalan kaki sementara dia enak-enaknya menunggang kuda". Dalam waktu singkat, cerita ini beredar ke seluruh kampung, dan juga terdengar oleh Luqmanul Hakim.

Singkat cerita, Luqmanul Hakim dan anaknya telah menyelesaikan urusan dan merekapun bersiap untuk pulang. Saat hendak pulang, Luqmanul Hakim lebih dulu naik ke atas kuda, anaknya diminta berjalan di depan menuntun kuda sebagaimana yang dilakukannya pada perjalan mereka yang pertama. Kembali mereka melewati perkampungan tadi, dan tentu saja penduduk kampung melihat mereka berdua. Seperti halnya kejadian pertama, kali ini para penduduk berkata sesama mereka, : "Tega sekali Luqmanul Hakim membiarkan anaknya berjalan kaki sementara dia duduk dengan enaknya di atas kuda". Cerita ini pun menyebar dengan cepatnya ke seluruh penduduk desa.

Pada kesempatan yang lain, Luqmanul Hakim kembali bepergian bersama anaknya. Kali ini keduanya menunggangi kuda tadi dan melewati perkampungan yang sama. Penduduk yang melihat adegan ini melongo, seakan tidak percaya Luqmanul Hakim dan anaknya menunggang kuda secara bersamaan, padahal kuda itu hanya bisa ditunggangi satu orang. Pendudukpun berkata dengan sinis, : "sangat zholim anak dan bapak ini, bisa-bisanya kuda yang mestinya ditunggangi satu orang ditunggangi berdua". Luqmanul Hakim dan anaknya dianggap tidak memiliki perikemanusiaan (mestinya perikebinatangan ya!!! he he he), kisah ini selesai.

Sekarang, kesimpulan apa yang anda bisa petik dari kisah Luqmanul Hakim dan anaknya?, Cobalah hubungkan dengan ketiga jawaban anda dari pertanyaan yang saya ajukan tadi. Menurut saya ada tiga hal yang bisa kita ambil hikmahnya dari kisah ini :

Pertama :

Pendidikan dan ajaran moral butuh keteladanan (contoh kongkrit), tidak cukup hanya dengan banyak bicara dan retorika belaka. Seorang pemimpin (pada level apapun), penganjur kebenaran, penegak hukum, untuk membuat orang lain taat dan mengikuti kebenaran yang disampaikannya, harus dibarengi dengan contoh teladan yang baik. Mengapa?, karena kalau hanya sekedar teori apalagi retorika kosong, orang lain akan berkata : "Kalau itu sih semua orang bisa". Saya sengaja menyampaikan hal ini, mumpung menjelang Pilpres dimana waktunya kita harus memilih pemimpin yang satu kata dengan perbuatannya.

Kedua :

Intisari ajaran Islam yang coba diajarkan Luqmanul Hakim kepada anaknya dalam kisah ini yang dapat diambil hikmahnya adalah, mengajarkan kepada kita agar dalam berbuat dan bertindak, tidak usah mengharapkan penilaian orang lain. Karena jika itu yang kita lakukan, maka yakinlah bahwa anda tidak akan menemukan satu kebaikan apapun dari perbuatan anda. Lihatlah kisah Luqmanul Hakim di atas. Ketiga hal yang dilakukan bersama anaknya tidak satupun yang baik di mata penduduk yang melihatnya. Lalu pada pada siapa kita berharap penilaian itu???

Ketiga :

Tentu hanya pada Sang Pencipta Allah SWT, kita mengharapkan apa yang kita kerjakan di dunia ini mendapatkan penilaian. Penialaian yang baik berupa pahala yang merupakan satu-satunya modal sekaligus bekal dalam perjalanan menuju kehidupan selanjutnya. Tentu saja, perbuatan dan tindakan yang saya maksud di sini adalah yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan Rasulnya Muhammad SAW yang secara sangat gamblang tertulis dalam Al Quran dan Sunnah Rasulullah, bukan pada hukum dan aturan manusia yang banyak memiliki kekurangan.

Karena itu hanya pada Allah kita bertawaqqal dan hanya pada-Nya pulalah kita kembali. Selamat membaca semoga bermanfaat.






Jumat, 26 November 2010






Arti Sebuah Cinta

Cinta bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal. Wanita, harta, anak, kendaraan, rumah dan berbagai kenikmatan dunia lainnya merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Cinta yang paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.
Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf: CINTA. Setiap orang bahkan telah merasakannya, namun sulit untuk mendefinisikannya. Terlebih untuk mengetahui hakikatnya. Berdasarkan hal itu, seseorang dengan gampang bisa keluar dari jeratan hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang pezina dengan gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, “Kami sama-sama cinta, suka sama suka.” Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.
Demikianlah bila kebodohan telah melanda kehidupan dan kebenaran tidak lagi menjadi tolok ukur. Dalam keadaan seperti ini, setan tampil mengibarkan benderanya dan menabuh genderang penyesatan dengan mengangkat cinta sebagai landasan bagi pembolehan terhadap segala yang dilarang Allah dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali ‘Imran: 14)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya dari shahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu mengatakan: ‘Hampir-hampir orang-orang kafir mengerumuni kalian sebagaimana berkerumunnya di atas sebuah tempayan.’ Seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah jumlah kita saat itu sangat sedikit?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Bahkan kalian saat itu banyak akan tetapi kalian bagaikan buih di atas air. Dan Allah benar-benar akan mencabut rasa ketakutan dari hati musuh kalian dan benar-benar Allah akan campakkan ke dalam hati kalian (penyakit) al-wahn.’ Seseorang bertanya: ‘Apakah yang dimaksud dengan al-wahn wahai Rasulullah?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Cinta dunia dan takut mati.’ (HR. Abu Dawud no. 4297, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3610)
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan: “Allah memberitakan dalam dua ayat ini (Ali ‘Imran: 13-14) tentang keadaan manusia kaitannya dengan masalah lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat, dan Allah menjelaskan perbedaan yang besar antara dua negeri tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa hal-hal tersebut (syahwat, wanita, anak-anak, dsb) dihiaskan kepada manusia sehingga membelalakkan pandangan mereka dan menancapkannya di dalam hati-hati mereka, semuanya berakhir kepada segala bentuk kelezatan jiwa. Sebagian besar condong kepada perhiasan dunia tersebut dan menjadikannya sebagai tujuan terbesar dari cita-cita, cinta dan ilmu mereka. Padahal semua itu adalah perhiasan yang sedikit dan akan hilang dalam waktu yang sangat cepat.”
Definisi Cinta
Untuk mendefinisikan cinta sangatlah sulit, karena tidak bisa dijangkau dengan kalimat dan sulit diraba dengan kata-kata. Ibnul Qayyim mengatakan: “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” (Madarijus Salikin, 3/9)
Hakikat Cinta
Cinta adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah yaitu kesyirikan.
Cinta kepada Allah
Cinta yang dibangun karena Allah akan menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan berharga. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (3/22) berkata: “Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah lalu Allah menurunkan ayat ujian kepada mereka:
“Katakanlah: jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (Ali ‘Imran: 31)
Mereka (sebagian salaf) berkata: “(firman Allah) ‘Niscaya Allah akan mencintai kalian’, ini adalah isyarat tentang bukti kecintaan tersebut dan buah serta faidahnya. Bukti dan tanda (cinta kepada Allah) adalah mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, faidah dan buahnya adalah kecintaan Allah kepada kalian. Jika kalian tidak mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka kecintaan Allah kepada kalian tidak akan terwujud dan akan hilang.”
Bila demikian keadaannya, maka mendasarkan cinta kepada orang lain karena-Nya tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik rahimahullah:
“Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada pada dirinya, niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman. Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan hendaklah dia mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada Allah) ada sepuluh perkara:
Pertama, membaca Al Qur’an, menggali, dan memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya.
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.
Ketiga, terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan.
Keempat, mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu.
Kelima, hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan dan mengetahuinya.
Keenam, menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala nikmat-Nya.
Ketujuh, tunduknya hati di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kedelapan, berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika Allah turun (ke langit dunia).
Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.
Kesepuluh, menjauhkan segala sebab-sebab yang akan menghalangi hati dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas)
Cinta adalah Ibadah
Sebagaimana telah lewat, cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.” (Al-Hujurat: 7)
“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (Al-Maidah: 54)
Adapun dalil dari hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hadits Anas yang telah disebut di atas yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.”
Macam-macam Cinta
Di antara para ulama ada yang membagi cinta menjadi dua bagian dan ada yang membaginya menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab Al-Yamani dalam kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hal. 114) menyatakan bahwa cinta ada empat macam:
Pertama, cinta ibadah.
Yaitu mencintai Allah dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadits di atas.
Kedua, cinta syirik.
Yaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah), mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
Ketiga, cinta maksiat.
Yaitu cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat.” (Al-Fajr: 20)
Keempat, cinta tabiat.
Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain yang dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf ‘alaihis salam) berkata: ‘Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita.” (Yusuf: 8)
Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik.
Buah cinta
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan: “Ketahuilah bahwa yang menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.” (Majmu’ Fatawa, 1/95)
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menyatakan: “Dasar tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna.” (Al-Qaulus Sadid, hal. 110)
Bila kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Allah? Maka kita tidak boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh secara global, akan tetapi jawabannya perlu dirinci.
Pertama, bila dia mencintai selain Allah lebih besar atau sama dengan cintanya kepada Allah maka ini adalah cinta syirik, hukumnya jelas haram.
Kedua, bila dengan cinta kepada selain Allah menyebabkan kita terjatuh dalam maksiat maka cinta ini adalah cinta maksiat, hukumnya haram.
Ketiga, bila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan.
Wallahu a’lam.